• Inas024

Menurut Guru Besar UNAIR, Lirik Lagu Bisa Jadi Sumber Sejarah!


Dosen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Dr Purnawan Basundoro menyebut salah satu sumber sejarah dapat melalui lirik lagu. Prof. Purnawaman menyatakan hal tersebut dalam webinar Partihistori dari Sejarah Lintas Batas pada Jumat (8/4/2022) melalui Zoom Meeting. Dalam diskusi bertema "Lirik (Lagu) Sebagai Sumber Sejarah" itu, Prof Purnawan mengajak audiens untuk melihat lirik lagu dari sudut pandang sejarah dan menjadi rujukan sumber sejarah.


Hal ini terbukti dengan musik tembang Jawa pada periode Mataram yang dikaji oleh sejarawan asal Australia, Ricklefs, dalam meneliti sejarah Jawa. Lebih lanjut, Prof Purnawan menjelaskan bahwa lagu-lagu populer (pop) yang masih dan pernah didengar masyarakat bisa diangkat sebagai narasi sejarah. Menurutnya, di antara banyak lagu yang bertema percintaan, akan selalu ada lagu yang membahas tentang peristiwa faktual. Misalnya, balada, sebuah peristiwa sejarah atau kejadian yang menjadi perhatian publik. Di Indonesia sendiri, ada banyak pencipta atau penyanyi lagu balada. Di antaranya, Jane dan Franky, Iwan Fals, Ebiet G. Ade, Rita Rubby, Ully Sigar, serta Benyamin S dan Rhoma Irama.


Prof. Purnawan kemudian memberikan dua poin sumber sejarah yang jarang diteliti secara detail, namun terdapat sumbernya melalui lagu-lagu. Yang pertama adalah pemanfaatan sejarah orang kecil atau pinggiran, seperti tukang becak. Ibu Sud, Benyamin, dan Ebiet pernah menyanyikan lagu tukang becak.


"Kalau melihat lagu Ibu Sud ini atau kita menulis tentang sejarah transportasi Jakarta, kita bisa memulai dari (lagu) ini. Bahwa tahun 30 sampai 80-an ada transportasi yang eksis di Jakarta, yakni becak," kata Prof Purnawan.


"Lagu becak Ibu Sud yang ceria berkontradiksi dengan lagu becak Benyamin dan Ebiet yang berisi solidaritas, derita, dan penderitaan tukang becak," imbuhnya.


Kedua adalah sejarah kecelakaan transportasi. Menurutnya, topik ini jarang diteliti oleh sejarawan. Padahal, hal ini juga ditemukan dalam lagu-lagu yang relevan untuk menjadi panduan menulis sejarah kecelakaan transportasi. Misalnya, lagu Iwan Fals yang berjudul 1910.


"Lagu ini menceritakan tentang kecelakaan kereta api di Bintaro, tabrakan KA 225 dan KA 220 pada 19 Oktober 1987. Kita bisa merunut dari kejadian tersebut dan seperti apa proses kejadian itu," imbuhnya.


Prof Purnawan memberikan pesan bahwasannya lagu tersebut mempunyai kejadian historis yang bersejarah yang dapat diungkap. Terutama melalui lirik-liriknya.


"Dengan demikian, memanfaatkan lagu tersebut, narasi sejarah yang dibuat bisa jauh kaya. Perspektifnya jauh lebih luas. Dari lagu yang puitis tadi, dapat ditangkap maka narasi yang dibuat akan jauh lebih lengkap," tutupnya.