• Indomusikgram

Lokaswara Festival 2020, Pantang menyerah berkompetisi di tengah pandemi

Bali, 19 September 2020 - Lokaswara Festival kembali hadir tahun ini ditengah pandemi setelah tahun lalu sukses diadakan di Yogyakarta di akhir tahun. Meski begitu, hal itu tidak menyurutkan Franki Raden untuk mempromosikan kebudayaan khas Indonesia, khususnya Bali melalui music. Acara ini berlangsung pada tanggal 19 September 2020 bertempat di Café Ubud, Lotus Bali dan Show berlangsung dimulai pada pukul 19.00 WITA.

Dengan format streaming layaknya penyelenggaraan acara di tengah pandemic, konser ini menghadirkan musisi dari beragam genre. Sebut saja dari ranah raggae, Ras Muhammad berkolaborasi dengan Bimo NoizeKilla. Lalu dari ranah Jazz, Nita Aartsen berkolaborasi dengan penyanyi kawakan Trie Utami, serta terakhir dari ranah ethnic, Jegog Suar Agung tampil dengan music bambu raksasa dari wilayah Jembrana, Bali.


“Dalam suasana banyak kekhawatiran seperti saat ini, kita harus tetap menjaga dan meningkatkan fighting spirit masyarakat. Salah satunya dengan terus mempromosikan kebudayaan dan pariwisata kita. Namun tentu saja dengan tetap mematahui aturan, termasuk melaksanakan protokol kesehatan di venue acara,” ujar Franki Raden, Director Lokaswara Festival 2020.


Kali ini untuk pertama kalinya, protokol kesehatan tetaplah diterapkan. Seperti membatasi jumlah penonton hingga 50 orang di dalam, hingga pengecekan temperature penonton serta sanitasi dan masker sebagai syarat utama untuk menyaksikan langsung. Dan penonton yang tidak dapat hadir di venue, dapat menyaksikan pertunjukan secara live di kanal YouTube Lokaswara dan telah ditonton banyak penonton dari berbagai negara.


Konsisten sejak 1992, Program music dari Lokaswara mengusung World Music yaitu music yang tumbuh dan berkembang pada akar budaya setempat. Program tersebut telah dirancang sedemikian rupa yang bertujuan untuk memikat penonton dari internasional. Di mana salah satu nilai jual dari wisata budaya Indonesia, khususnya dalam music adalah keragaman music khas budaya nusantara.


Target untuk jadi World Class Festival


Memasang target untuk menjadi world class festival tidaklah muluk-muluk ia sampaikan. Bekerja sama dengan Kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif (Kemenparekraf), Lokaswara Festival telah beredar di banyak daerah sejak tahun 1992. Sebut saja di Jakarta, Bandung, Toraja, Sigi, Kepulauan Togean hingga di Bali. Dan pada tahun ini, dia telah memasang target optimis bahwa Lokaswara Festival ini dapat ditonton hingga 10,000 orang dengan komposisi hingga 20% penonton berasal dari luar Indonesia.

Selain dukungan langsung dari kemenpraf, Franki optimis bahwa Lokaswara bisa serupa dengan WOMAD di Inggris atau Rainforest Music Festival di Malaysia yang telah didatangai hingga 30,000 penonton dari seluruh dunia. Syaratnya, perlu konsistensi dan tentunya sokongan dana agar festival ini tetap mampu berjalan kedepan. Ia pun optimis, bahwa dalam waktu hingga 3 tahun, World Music dapat menjadi tren baru di Indonesia.


“Pastinya, penyelenggaraan berikutnya akan lebih bervariasi dari segi musisi dan genre. Karena dengan term World Music, banyak genre-genre musik dapat dihadirkan asal punya akar budaya atau sosial yang kuat,” imbuhnya. Selain itu, diharapkan dengan konsisten secara terus menerus pula, komposisi penonton dapat semakin imbang dalam menyaksikan Lokaswara kedepan. -MTP