• Inas024

Cerita Hidup Sal Priadi dalam Maxi-Single Terbaru bertajuk "MARKERS AND SUCH"!


MARKERS AND SUCH, dirilis pada Jumat (18/3), maxi-single ini memuat tiga lagu yang masing-masing berjudul “Kita Usahakan Rumah Itu”, “Mesra-mesraannya Kecil-kecilan Dulu”, “Lewat Sudah Pukul Dua, Makin Banyak Bicara Kita”. Ketiga judulnya memang tidak dipaksa efisien sekaligus berlapis arti. Ini adalah cerminan dari setiap liriknya yang bercerita begitu gamblang. Anda akan memahami isi lagunya di kali pertama dengar.


“Gue sempat stres karena merasa gue harus menulis karya dengan nafas dan cara penyampaian yang sama dengan album pertama,” ungkap Sal sedikit terbata-bata tentang perbedaan tema serta gaya penulisan liriknya. Kami berbicara di ruang kerjanya di lantai dua, duduk berseberangan di mulut jendela besar yang sengaja dibuka. Cahaya jingga matahari tersaring masuk ruangan oleh rindangnya pohon. Hembus angin sore menyelinap di tengah percakapan.


“Sampai akhirnya bisa gue lepasin. Gue bebas. Gue cuma mau nulis apa yang gue rasakan pada

saat itu. Sehingga muncul tema-tema seperti rumah, anak, dan istri gue.”


“Kita Usahakan Rumah Itu” adalah proyeksi rumah impian Sal dan keluarga yang sedang dituju. “Urusan perabotan dan wangi-wangian, ku serahkan pada seleramu yang lebih maju,” tulis Sal dalam liriknya tanpa ada kiasan, tanpa terdengar risi.


Kemudian saya bertanya, “Sebagai penulis lirik, bagaimana caranya menerima diri sendiri yang sudah berubah dalam hal penulisan? Dari ‘tulang belikat’ ke ‘perabotan’.” Nyatanya, itu tidak mudah bagi Sal. “Prosesnya bukan hanya soal pengkaryaan, tapi bagaimana gue menerima bahwa gue sudah berubah secara hidup,” jelas Sal. “Ketika gue menikah, perasaan gue terasa nyata. Tidak lagi mengawang akan sebuah perasaan seperti penciptaan karya yang terdahulu.”


“Mesra-mesraannya Kecil-kecilan Dulu” adalah bentuk kasih Sal sebagai seorang ayah kepada anak. Ia memilih kata, memilah nada, hingga meluapkan emosinya teruntuk khusus sang jagoan. “Ba, sementara kita mesra-mesraannya kecil-kecilan dulu, ya? Tunggu sampai semua mereda.” Belum ada nuansa seperti ini di karya Sal Priadi sebelumnya. Karya yang membuat ia sendiri tercekat dan menangis saat rekaman.


“Karena gue benar-benar sedang merasakan itu,” katanya.


“Kalau di karya-karya sebelumnya, gue rekam dengan membalikan lagi perasaan dulunya seperti apa. Sedangkan ini, kali pertama gue menuliskan dan langsung menyanyikan perasaan yang sedang gue rasakan.”


Sal tidak sendiri demi mewujudkan perasaannya. Lagu “Rumah” dan “Mesra” melibatkan musisi-produser Petra Sihombing, sahabat Sal yang juga kini mengarungi cerita hidup serupa dalam urusan rumah juga buah hati. Kesamaan ini menghasilkan akselerasi proses kreatif untuk kedua lagu.


“Apa yang dibikin sama Petra itu tidak mengada-ada rasanya. Semua porsinya tepat. Ada kedewasaan yang muncul di pemilihan instrumennya,” kata Sal.


Sedangkan di “Lewat Sudah Pukul Dua, Makin Banyak Bicara Kita”, Sal melibatkan kolaborator kepercayaannya yakni Mahatamtama Arya Adinegara dari kuartet pop Coldiac. “Dia teman lama gue. Masalah percintaan, gue cerita ke dia. Begitu juga sebaliknya.” Sesuai judulnya, lagu ini merupakan tangkapan momen ketika Sal dan istri kerap melewati percakapan berarti hingga pukul dua pagi. “Gue dan dia itu relatif baru kenal. Lalu kita menikah dan punya anak. Sehingga proses perkenalannya kami lewati di masa ketika kami sudah menikah. Walaupun ketika pacaran, kami sering berbincang hingga larut juga. Lagu ini menangkap momen tersebut,” jelas Sal. Dari obrolan menarik, menjadi semakin tertarik. “Walaupun tua terkadang menyebalkan. Tapi janjinya selamanya menyenangkan,” lirik “Pukul Dua” pun menjadi surat cinta untuk Sal dan istri di masa mendatang.


Agen pengiriman paket sempat datang. Kru produksi juga melipir. Truk besar tak tanggung lewat. Anak tetangga senang berlarian. Matahari sudah terbenam. Es Batu telah lenyap di dasar gelas.Kami berbincang cukup panjang. Selama itu, terdapat laci kecil berbahan kayu pucat yang berdiri menyamping di antara pandangan kami. Laci yang salah satu kotaknya bertuliskan, MARKERS AND SUCH, PENS, FLASHDISKS. Nama yang ditetapkan sebagai judul album penuh Sal Priadi selanjutnya. Sekarang, kita berada di bagian pertama tentang fase hidupnya yang nyata. Selanjutnya, Sal akan menceritakan hal lain lewat PENS maupun FLASHDISKS.